Minggu, September 11, 2005

marah

Aku memakinya hingga dia tak berkutik. Tak tahu harus bagaimana. Aku tak pernah setuju dgn apa yg dilakukannya. Sehrsnya dia tahu ini hidupku –tidak- ini hidup kami. Dia yg berbagi tempat dalam diriku seharusnya tahu pasti lelah berkuasa lama2.

Aku menatap tajam padanya. Sebenarnya relung hatiku menangis. Menangisi dia yg terlalu toleran, hingga tidak memberiku kesempatan mengimbanginya.

Aku tertawa saat teman kami mengejeknya. Sekalipun kau berkata memberiku kesempatan berbicara tp kau mencekikku. Lihat mereka tidak butuh logika, mereka butuh aku.

Tidak ada komentar:

 
;