Sangat tipis berbedaan antara benci dan cinta. Benarkah? Tapi setipis apa?
Saat seseorang yg sudah menjadi bagian dari keseharian dan tiba2 membalikkan wajahnya. Rasanya kening ini mengkerut. Tiba2 saja segumpal pertanyaan mengeram dipikiran. Apakah aku melukai perasaannya? Cukup lama aku mengintrospeksi diri sebelum akhirnya kami semua bicara.
Tapi kenapa masih belum bisa jujur. Sejenak aku menyayangkan sikapnya yg seolah merasa bersalah tapi terus menelan kembali muntahan yg dikeluarkannya. Jika sekali saja dia sudah seperti itu, akan sulit baginya untuk menerima kata2ku. Aku hanya membisu mendengarkan kalian saling bicara.
Rasanya aku ingin pergi dari kemunafikkan ini. Jika memang tidak ada apa2, jika memang aku tidak salah, jika memang aku tidak melukai perasaanmu kenapa kau seperti orang yang bermuka dua. Kau bahkan tidak berani melihat mataku. Kau tahu kau seperti orang yg telah melakukan kesalahan dan tak berani menampakkan wajahmu. Kenapa?
Sejak awal aku sadar pertemanan kalian tidak seimbang. Didunia ini ada saat qta memberi dan ada saat qta menerima. Aku tak berhak menilai pertemanan kalian. Tapi saat seseorang berseloroh bahwa dia merasa fine untuk melukai temannya karena pasti temannya memaafkannya. Dia lupa bahwa air juga bisa mengeras.
Dalam teman tidak ada untung rugi, menghitung berapa banyak qta memberi, berapa banyak qta tersakiti, berapa banyak dia berguna bagi qta. Tidak! Semua ada saatnya. Ingatlah, bahwa didunia ini berlaku hukum sebab-akibat. Tak peduli seberapa banyak kau melukai orang lain, kau pasti akan menemukan akhirnya.
Jangan menelan setiap kata2ku tanpa kau cerna dengan baik. Bukankah apa yang kukatakan sama saja dengan ‘jika ingin mendapatkan orang yg baik, kau harus membuat dirimu baik dulu’ itukan sama artinya dengan ‘jangan melukai orang jika tidak ingin terluka’ dan pastinya banyak lagi. Sebaiknya kau buang filosofiku itu karena kujamin kau tak








Tidak ada komentar:
Posting Komentar