Hidup manusia ini seperti selembar kertas yg memiliki dua sisi yg berbeda. Sisi itu sangat tidak mungkin utk saling bertemu. Terkadang kita merasa sangat mengenal sesorang melebihi siapapun tetapi terkadang dia menjadi orang yg sangat asing bagi kita. Hidup tadinya adalah sesuatu yg normal dan biasa2 saja, malah terkadang itu2 saja sehingga tak heran orang lantas berkata ‘aku bosan dengan hidupku’. Kenapa bisa begitu ya. mungkin karena ia tidak mengenal sisi lain dirinya sendiri.
Saat semua orang membicarakannya, aku hanya bisa tersenyum. Dalam hatiku benarkah kalian tidak mengenalnya seperti aku mengenalnya. Apa yg berbeda. Seharusnya tidak ada bukan. Kalian mengenalnya sama seprti aku mengenalnya. Dia memperlakukanku sama seperti dia memperlakukan orang lain. Bahkan aku mencelanya bersama kalian. Seharusnya penilaian kita adalah sama. Tapi lalu kenapa aku merasa semua tak tampak sama. Kenapa kemudian penilaian kita jadi berbeda. Aku bertanya pada diriku ‘apa?’ kemudian kudapati aku mengenalnya sedikit lebih dari kalian.
Jauh sekali kutemukan dia dgn wajah yg sama, mata yg sama, bibir yg sama tetapi saat aku kembali melihatnya mata itu telah menatap lain, bibir itu telah bicara lain, dia hadir dengan pribadi yg berbeda. Aku tidak mengerti sebenarnya dia yg menumpang pada sesorang dihadapanku atau seseorang telah menumpang dalam jiwa orang dihadapanku. Aku dengan kepolosanku bermain bersamamu. Kau tak membuatku luka sekalipun kau memperlihatkan padaku kalau aku harus berhati2. Andai kau tahu aku tidak pernah merasakan ketidaknyamanan bersamamu meskipun kau pernah tidak menghiraukanku. Aku memang seperti bermain pisau yg kapan saja akan melukaiku dgn kejam tapi aku tidak akan menangis sendirian bukan. Keyakinan dalam diriku semakin kuat hingga sekalipun kau mendepakku aku tetap disini.
Aku mengenalmu dengan pribadi sebenarnya. Kau sendiri yg menelanjangi dirimu dihadapanku hingga ditanganku aku menggengam sebuah cermin agar kau bisa melihat sisi lain dirimu yg rupanya tak bersahabat denganmu.
Aku masih berdiri disampingmu sekalipun kini kau tak lagi mau melihatku. Kau memintaku untuk berbagi semuanya dan aku membagi tiap tetes kebahagiaan yg kupunya. Tapi rupanya bukan itu maumu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar