Senin, Juli 14, 2008

hatiku biru

Dear alpha,

Lagi duduk diantara keramaian. Melihat sejenak aktivitas disekelilingku. Menunggu teman yang sudah dua bulan lebih tidak berjumpa. Sinar matahari jatuh di hadapanku. Biasnya indah. Di kedua tanganku ada buku terbuka. Buku yang menjawab tanyaku dan akan terus memberiku gambaran kesimpulan atas uraian-uraian yang mengisi kepala, otak dan rongga dadaku.

Aku lelah bermain dengan alpha. Membiarkannya menata rumahku seumur hidupnya. Rasanya sangat lelah selalu mengontrol emosi. Membiarkan seluruh hidup dikendalikan oleh logika dan mempertanyakan semua yang terjadi.

Angin semilir membuat daun bergerak lembut. Angin itu pula yang seolah memberiku hati seluas samudra. Menghembuskan nafas seperti melepas sesuatu. Ada kesejukan dan rasa damai yg perlahan merasuki tubuhku. Itu semua karena aku meyakini sesuatu. Aku menyakini ini, meresapinya dalam diriku hingga rasanya ada dalam aliran darahku. Ada rasa euphoria, kehangatan, gejolak, keresahan, getaran, tidak berdaya, puas dan ingin teriak yang mengumpul jadi satu.

Kurasakan wajahku menghangat. Ada seseorang yang bayangannya bergelayut manja dibenakku. Seseorang yang aku tidak tahu apakah aku punya kursi dihatinya meskipun aku sudah memesannya beberapa minggu lalu. Semuanya bergetar, mencoba untuk melepaskan diri. Alam seperti sedang menyedotnya, memaksanya keluar dan perlahan lepas dari diriku. Menarik semua energiku. Mereka perlahan-lahan terbang, menari-nari mengelilingi tubuhku dan aku bisa melihatnya…mewujud.

Langit siang menjelang sore tadi itu biru.

Tidak ada komentar:

 
;