Pertemuan sore tadi mengajarkan gw pada satu hal, bahwa pertemanan sebaik dan selama apapun tidak membuat kita bisa mengatakan kita mengenal teman kita dengan baik. Dan ini pula yang membuat gw mulai mendefinisikan apa arti teman, sahabat atau teman lalu lalang.
Sore tadi membuat gw mengumpulkan semua definisi teman yang gw mengerti. Dan tahulah gw, teman macam apa gw ini. *iya gw*
Gw menumpulkan diri sebagai orang yang baru mengenalnya, dan mulai meraut pelan pelan tentang siapa gw dan siapa dia dan ada apa antara kita.
Yah...gw nggak mengenal siapa orang yang duduk dihadapan gw. Wanita muda seumuran gw dengan cerita bahagianya. Dimana dalam cerita bahagianya, gw adalah pembaca yang seharusnya merasa haru, tawa, bahagia, bersuka cita dan bertepuk tangan. Tetapi sayangnya pembaca setia itu hanya kebagian epilognya saja. Yah...ternyata gw adalah teman standar.
Saat ceritanya bergulir dan senyum terus mengurai kenapa hati gw terluka yah. Gw mengingatkan diri berkali kali bahwa ini adalah kebahagiaan yang seharusnya turut gw syukuri. Sebagai teman yang baik seharusnya gw turut merasakan suka cita itu. Tetapi berkali kali pula gw merasa semakin jauh darinya. Yah...gw semakin nggak mengenal sosok dihadapan gw.
Mungkin gw terlalu percaya diri, gw mengenalny. Mungkin gw terlalu menghayati dan menerima telak definisi teman kecil. Mungkin gw terlalu menuntut banyak. Mungkin gw lupa untuk mengabaikan banyak hal yang kita lakukan demi pertemanan panjang kita. Mungkin gw juga lupa bahwa setiap orang memiliki rahasianya sendiri hingga ia memerlukan waktu untuk merasa siap membaginya. Dan gw membutakan diri bahwa teman itu seharusnya pengertian. Dan gw bukan teman yang baik, seperti pikiran gw.
Apa yang baru saja terjadi menampar gw, tidak semua orang memiliki tempat yang sama seperti gw memposisikan mereka. Bahwa kata penting itu selalu tidak sama dengan harus. Disaat gw mengatakan biru itu awan, mungkin kau mengatakan biru itu laut. Karena kita punya mata dan pikiran yang berbeda. Dan gw disini masih merasa kecewa.
Gw sedih.
Tidak seperti kemarin saat kita saling mengatakan bahwa kita sudah berteman jauh lebih dari setengah umur kita. Bahwa tidak ada yang kita sembunyikan seperti jerawat dijidat. Bahwa kita bangga dan bahagia dengan pertemanan kita. Bahwa kita selalu berharap bahwa pertemanan kita akan terus berlanjut hingga akan ada cerita tentang anak cucu kita. Bahwa sejarah itu tidak hanya tentang penemuan pesawat terbang tetapi perjalanan pertemanan kita adalah sejarah penting. Bahwa gw sekarang duduk disini memikirkan apakah kita sedekat itu hingga "status : teman kecil" membuat gw harus merasa istimewa.
Seharusnya teman istimewa itu tahu hal sepenting cerita itu. Bahkan mungkin menjadi saksi dalam cerita penting itu. Cerita yang mengubah hidup teman penting kita.
Ibarat kehidupan kita yang berjalan sejak kita kecil hingga duduk bersama seperti ini, kita tahu proses itu karena kita bersama tidak hanya karena tumbuh bersama. Tetapi kita bersama karena kita merasakan bahwa kita istimewa.
Rasanya mengusap berkali kali wajah ini dan menyakinkan diri bahwa ini hanyalah salah satu bagian dalam pertemanan yang bisa terjadi pada siapapun. Yah seperti cerita cerita, seharusnya mungkin kita hanya akan marah karena hanya menjadi pembaca epilog, lalu tidak lama kemudian akan tertawa dan memaafkan lalu berharap bisa berkelakar dan menertawai hal ini sebagai kekonyolan.
Tapi bagaimana jika sebenarnya cerita itu telah kita baca selayaknya kita membaca koran dan mendengar gossip, tetapi kita percaya bahwa selama ia belum mengatakan pada kita itu hanyalah berita lalu lintas. Dan ternyata kita cukup terluka karena menjadi orang terakhir yang tahu disaat dunia telah selesai tertawa bahagia.
Ternyata gw adalah orang yang menganggap temannya istimewa dan tidak bermain main dengan kata itu. Ternyata menjadi pendengar setia tidak membuat gw mendengar semua hal. Ternyata teman itu bukan menjadi tempat mendengar tentang duka saja, tetapi juga tentang bahagia. Ternyata gw adalah teman yang kolot dan kekanak kanakan. Ternyata gw adalah teman yang menganggap dirinya penting hingga menuntut hal yang sama pula. Ternyata gw menempatkan mereka dalam penghargaan tertinggi hingga apapun akan langsung mereka dengar dari mulut gw dan itu tidak sebaliknya. Ternyata gw terlalu kaku menempatkan mereka dalam posisi garda terbaik hingga lupa bagaimana posisi gw sebenarnya di mata mereka. Ternyata kita tidak sedekat tampaknya. Dan ternyata kita nggak sedekat yang gw kira.
Status : casual friend.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar