Apa pekerjaan bokap lo sekarang?
Tahukah lo hobi bokap lo sekarang?
Emmm... Dimulai dengan percakapan yg selalu ada antara gw dan papap di mobil dalam perjalanan tetapi kali ini khusus menjemput mamam di bekasi. Yah.. Omar si mobil bokap ini selalu menjadi saksi bisu percakapan antara gw dan si bokap. Apa sih percakapan kita, paling2 ttg gw yg nakal, kerjaan gw yg nggk nentu, hobi baca-jalan2 gw yg sering nguras tabungan gw, rencana2 gw, kebutuhan2 gw, keinginan gw, workshop atau seminar yg gw ikuti, gw mau apa-mau kemana, ttg temen gw, pekerjaan temen, ttg kondisi kantor klien, ttg bos yg begini, ttg menteri ini, ttg gw naik busway. Yah tanpa sadar selalu ttg gw. (--")
Lalu apa yg menjadi curhatan bokap? Paling ttg kamar gw mau diapain, ttg printer gw yg kemarin ngambek, ttg tab gw yg ng-hang yg ternyata bokap liat dimainin ade gw, ttg sepeda gw kenapa rem kanannya nggak berfungsi, ttg rangka backdrop yg udah dia ukur, ttg gw yg brantem sama mamam, ttg kebiasaan ade gw yg lupa rumahnya di mana. Dan lagi2 tidak berhubungan dengannya.
Jika dahulu pertanyaan ttg pekerjaan menghampirinya, papap pasti bilang kerja di kontraktor, mimpin proyek ini-itu, atau ia akan bercerita dulu ngurus LIA di Bandung, sekarang jawabannya jelas jauh berubah. Papap akan menjawabnya, nemenin istri dan anak-anak. Yah...papap menemani dihampir setiap langkah anak2nya. semandiri apapun kami melangkah, dibelakang kami selalu ada bayangan papap.
Tetapi itu semua memang ttg waktu. Dan waktu itu berbicara dgn lugasnya pada gw. Mungkin juga sudah waktunya. Saat perjalanan mulai diisi dengan pertanyaan papap ttg suami kakak sepupu yg menjadi peternak burung. Kemudian ttg keinginannya main ke rumah kakak sepupu itu. Lalu diikuti dgn pemikiran untuk juga memiliki dan memelihara burung. Mungkin hanya sekedar celotehan, seperti anak2 menginginkan mainan baru. Hingga secara tidak sengaja pengertian itu muncul dengan sendirinya.
Benarkah kebahagiaan anak adalah kebahagiaannya? Benarkah hanya kebahagiaan anak yang membuat orangtua menjadi bahagia? Lalu dimana dia, dimana kebahagiaannya atas kesempatan hidup yang dia miliki setelah banyak membahagiakan anak2nya? Benarkah dgn hanya melihat anaknya bahagia, orangtua lantas bahagia? Sungguhkah semudah dan sesimple itu?
Terasa baru kemarin, seorang teman bercerita ttg bokapnya yang sudah tua, sering sakit karena banyak pikiran entah tensinya naik, kolesterolnya tinggi, asam urat kumat, byk melamun, mulai suka ngambek dan nggak sabaran. Kemudian ia memperburuk pandangan dgn mengatakan bahwa semakin tua seseorang-dlm hal ini temen gw berkisah ttg kakekny-semakin ia bertingkah seperti anak kecil. Ditambahkan pula prilaku kekanakkan komplit dgn susah dibilangin, bandel, keras kepala, minta ini itu yg intinya sebenernya menuntut pengertian dan perhatian orang sekitar.
Disisi lain gw melihat oma, diusianya yg sudah lebih dari 70 tahun ia masih dipercaya menjadi ketua RT. Masih terkadang bekerja karena profesinya sebagai perias pengantin. Langkah kakinya yg terkadang jelas terlihat mudah lelah, makanannya jelas sudah menghindari keras, tidurnya sudah semakin maju, ia masih saja tersenyum saat pekerjaan menghampirinya.
Kadang orang tanpa sadar mencibir-maksudnya sih bukan begitu-bahwa kami keluarganya yg muda2 nggak perhatian dgn masih saja membiarkannya bekerja. Tidak mudah membuat mengerti bahwa ada orang2 yg hidupnya biasa dinamis, selalu bergerak, selalu ada yg dikerjakan, selalu ada yg dipikirkan lalu tiba2 kosong. Sunyi.
Pernahkah orang berpikir kejenuhan justru membunuh. Kata oma, bukan materi yg dikejar. Apalagi dipekerjaan oma, kebahagiaan orang yg lalu mengingatnya dgn berterima kasih adalah penghargaan dan kepuasan batin yg nggak ternilai harganya. Kesibukan pulalah yg membuat oma lebih hidup. Lebih menikmati hidup.
Yah...satu hal yg baru gw sadari bahwa usia itu nggak bisa dibohongi. Mungkin karena kita hidup dan tinggal bersama membuat kita kurang menyadari bahwa orangtua kita semakin tua, sejalan dengan kita yg semakin dewasa. Bahwa mungkin dahulu kita suka bicara asal atau berdecak kesal saat orangtua kita bilang "aduh... Papap capek nih" saat baru menggeser lemari atau saat kita minta di anter ke pasar tebet.
Gw pun mulai menoleh ke kiri dan kanan gw. Mengintip teman2 seusia dan melihat bagaimana orangtua mereka menjalani kesehariannya yang mulai menuju kata "hari tua". Sayangnya, tidak banyak orangtua diumurnya yang sekarang memiliki anak pertamanya diumur yang sama dengan gw. Yah...jelas sejenak gw mendustai diri bahwa bokap gw belum tua. Dia masih semangat dengan hobi olahraga bulutangkisnya, masih nemenin anaknya kemana-mana, masih nonton film, ngobrol sama teman2nya. Dan itu sama artinya gw belum dewasa.
Papap memang tidak mengeluh apalagi merengek minta sesuatu. Dia mulai merasa bahwa bekerja sudah bukan prioritas utama baginya. Bahwa kekosongan waktu yang ia miliki tidak bisa dinikmati dalam diam. Papap merasa, meskipun tua ia juga butuh kehidupan bermain bersamanya. Ia butuh hari2 merangkai cerita dengannya. Dia tidak meminta banyak. Dia hanya meminta dukungan keluarganya untuk menikmati senangnya memelihara binatang.
Gw bukan sedang mengingatkan diri sendiri ttg apa yg sudah gw berikan untuk membalas kebaikan orang tua gw. Bukan sedang mengingat diri sendiri sudahkah gw membahagiakan orang tua gw. Bukan pula menghitung apa saja yang sudah gw berikan buat orang tua gw sebagai balasan karena gw bahagia. Tetapi gw sedang mengingat apa saja yang membuat gw dan orangtua gw bahagia bersama.
Published with Blogger-droid v1.6.8








Tidak ada komentar:
Posting Komentar