ibarat minum obat dokter, cocok2an. ibarat nyoba baju pantas2an. ibarat pake sepatu muat2an. begitu juga pandangan hidup.
baru2 ini gw chatting dengan seorang teman. awalnya kita ngebahas tentang rencana pernikahannya. track record pacarannya sangat panjang, berliku dan kalau disinetronkan mungkin lebih panjang dari jumlah episode sinetron cinta fitri *halaah*. hingga akhirnya bertemu dengan sosok pria yang kini menjadi calon suaminya. dia bilang baru mengenal si laki bbrp lama, pendekatan dan bilang serius lalu bbrp minggu langsung nikah ajah yuks. yaudah cepetkan. yaiyalah cepet setahu gw juga lo pacaran juga nggak pernah lama dari menstruasi gw *lebay* tapi gw salut. diantara pengalaman pendek2nya berpacaran dengan daftar yang panjang. dia yakin dengan pendeknya ini maju melangkah lebih panjang.
tetapi yang jadi perbincangan kali ini bukan dia dan tanya jawab persiapannya. tetapi ttg hidup dan nikah. dan sambil bercerita dia bertanya pada gw karena ibarat buku, buku gw udah tipis kebanyakan putihnya pula. dia lupa apa, isinya semua juga tentang mereka2. karena gw suka cerita kalian dibandingkan nyeritain gw punya. punya kalian lebih hidup dan gw banyak bermain dengannya.
menikah bagi gw bukan prioritas tapi senang dan bahagia itu harus. saat itu gw utarakan, mulanya dia menanggapi dengan kepala dingin tetapi karena gw ngejawabnya setengah2 dia mulai manas dan mulai keluar bijak2 anget2 sup ayam. gw nggak bilang nggak mau nikah. gw cuman bilang bukan prioritas utama saat ini. tetapi mungkin disinilah kelemahannya dunia chit-chat, wajah gw yang hidup nggak nongol jadi rasanya kayak baca buku teori politik hambar.
kenapa sekarang ini banyak yang nikah yah? pertanyaan itu konyol. karena jawabannya kalau yang ngomong keponakan gw itu baru aneh. yaiyalah banyak yang nikah, musim nikah. lo nggak cek umur lo berapa, umur segini anget2nya orang nikah. lo nggak kepengen marr? hehhehheeee...siapa yang nggak pengen. punya teman hidup, bisa berbagi apapun, eh tunggu dulu. jangan bilang keputusan lo nikah bukan karena virus C tapi virus U?
kenapa gw mikir begitu, karena cuman elo yang punya tekanan soal ini jauh bahkan sejak dulu.
gw percaya setiap hal dalam hidup itu ada momentnya. ada saatnya. semua itu akan menghampiri tepat pada waktu. dan bicara waktu itu relatif, bisa cepat, wajar atau lambat. kalo kata orangtua jodoh. bisa nggak dengan sederhana lo terima jawaban gw itu.
tidak rupanya karena apa, karena ia masih tersandung dengan pernyataan awal gw. yang ditafsirkan kalau inget seorang teman dulu bilang...lemot. baiklah. satu hal yang gw rasakan adalah gw merasa belum tepat dan pantas untuk ke sana. gw nggak punya bekal apa2 untuk nikah. mungkin gw bukan oknum T&T yang sandungannya adalah materi menjadi momok menakutkan. atau oknum Y&I yang sandungannya tentang kesetaraan. apalagi oknum F&S yang sandungannya tentang hati yang belum matang. atau oknum D yang udah mau n kepengen tapi lom muncul2.
yang intinya sebnarnya semua ada solusinya. kalau orangtua bilang, setiap pernikahan itu punya rezekinya sendiri. menikah bisa jadi penyemangat untuk saling mendukung. yang penting menikah itukan niatnya ibadah, pasti dengan menikah akan ada ketenangan. jangan putus untuk usaha dan berdoa, beredar dimana itu penting loh. yah ada solusinya kan.
tetapi bagaimana kalau masalahnya adalah adam masih tersesat mencocok2an rusuknya yang hilang diantara tumpukan jerami lalu memasang rusuk palsu, sedangkan rusuknya di lemari antik ngerasa bengkok *weeee*








Tidak ada komentar:
Posting Komentar