antara pengen jambak, jewer, njorokin tapi itukan bukan sikap anggun, ng-gaya, cool dan profesional *halaah*. antara kayak nggak bersyukur dan nggak tahu diuntung. tetapi menolak perasaan seperti itu lantaran kan seperti apapun pekerjaan itu punya ceritanya sendiri2 termasuk yang njengkelin.
antara menuntut secara halus kehadiran profesionalisme dan kecanggihan dengan memasukkan kata 'segera' tetapi harus juga seiringan dgn profesional ditempat lainnya, jadi nggak patut dong memberi ruang pada sinis saat dibalikkan.
bagaimana sebenarnya bersikap tetap profesional saat keprofesionalismean kita diuji? sampai saat ini yang gw rasakan dan gw lakukan adalah menekan perasaan itu sendiri dan berusaha happy. tetapi adakalanya itu ngedongkolin. apalagi gw termasuk orang yang nggak perhitungan begitu banget soal kerjaan. ternyata hal kayak gini malah bikin capek sendiri. mungkin bersyukur kali yah orang2 yang selalu perhitungan dengan pekerjaannya, karena sengedumel2nya dia akibat pekerjaannya dia di-feedback-in profesionalisme ditempat lainnya yang artinya setimpal.
berkali kali dirutuki teman untuk lebih menghargai tenaga sendiri tetapi berkali kali pula gw berusaha untuk, "ahhh cuman begitu doank kog. nggak masalah. anggap service"
"memang kalau nggak masalah kenapa? nunggu jadi masalah?"
mungkin dia benar. saat ini jadi masalah, karena gw udah punya muka siap muntah. dia mengingatkan gw untuk menghargai setiap jengkal jerih payah gw, sedangkan gw nggak pedulian. kadang gw pikir pekerjaan berat dengan feedback kecil pasti akan datang feedback kejutan dari tempat lain. dan gw sering mengalami hal ini, yang kadang gw bisa bilang, saat pintu gerbangnya terbuka kecil, pintu masuk rumahnya pasti terbuka lebar dan terkadang jendelanya ngablak.
wadduh kog jadi riya gini sih, tapi bukankah itu sikap optimistis. apalagi Tuhan *lohkog* tahu kog, kan semua juga terjadi atas seizin-Nya -wadduh..mulai ada indikasi nyalahin Tuhan nih. *ampun*
percaya nggak klo Tuhan lagi nasihatin kita dengan diingatkan lewat teman baik kita yah, Tuhan kan maha cerdas. okey baiklah gw toyor kepala gw sendiri. selanjutnya apa? entahlah, pengen ngedumel ajah, cuman nggak punya pelampiasan. kalau ngomong ini ke teman gw itu, dia pasti berdecak lidah, trus ngomelin ketidakpedulian gw yang sebenarnya kalau boleh bilang, iyah gw ngerti, nggak mau bego lagi. cuman kan memang lagi males berdebat. sedang ingin didengarkan dan dibilang, nggak papa, lain kali jangan begitu lagi yah. kan demi lo juga. *aaaahhh*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar