Rabu, Agustus 03, 2011

(bukan) sepotong baju

Seberapa seringnya sih dari setiap kali pergi ke smanggi gw melewati centro? Jawabannya hampir tiap ke smanggi. Lalu seberapa sering gw tergerak untuk sekedar melirik baju baju yang didisplay? Acap kali melewatinya. Tetapi berapa kalikah yang mampu membuat mata terkunci, kaki berhenti dan langkah pasti terarah? Jawabannya hanya kala tulisan SALE betebaran dimana2. Tetapi adakah yang mampu menarik gw apapun alasannya untuk minta dilihat, minta didekati, minta diamati lalu disentuh kemudian menggoda minta dicobain? Jawabanny ternyata ada.

Tetapi bagaimana jika baju yang menarik hati itu masuk dalam deretan baju ajaib. Yup, baju ajaib itu adalah baju yang acap kali gw hindarin karena dari liatnya saja, kalo nggk karena bisa bikin malu2in, nggak bakalan pantas, nggak akan terpakai keluar dari pintu rumah, atau terlampau mahhall.
Tapi gimana kalau itu baju entah warnany, modelny, nyamanny tetep minta ikut pulang? Wah klo sudah gini gw selalu bisa mengandalkan rasionalitas dan realitas.

Tapi sayangnya dia bukan sepotong baju yang acap kali bisa gw abaikan karena pikiran rasional gw. Gw terlalu tergugu dengan apa yang coba ia tawarkan dengan apa yang sebenarnya kita ketahui bersama. Ada saat dimana baju itu bicara tentang semua yang terasa pas, nyaman, manis, anggun dan sempurna. Tetapi sedetik kemudian ia bicara masalah belahan depannya yang terlalu turun, punggungny yang terbuka, agak ketat sehingga lekuk tubuh tergambar jelas atau warnany yang bikin nafsu.
Diantara kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya, jelas baju itu dan gw menemukan satu permasalahan, kita harus bekerja sama menemukan sepatu yang cocok.

Lalu apa yang harus gw lakukan. Saat rasanya itu, ibarat baju yang pantas untuk gw pakai dihari istimewa, lebih dari sekedar untuk pergi kondangannya weny atau yusi?

Gw harap gw bisa pulang secepatnya lalu tidur nyenyak seenaknya sehingga besok gw bisa bangun dan lupa semuanya. *pengen nangis*
Published with Blogger-droid v1.7.4

Tidak ada komentar:

 
;