Jumat, September 09, 2011

anggota baru keluarga


Sebenernya belum resmi, tetapi gw dan ade gw may sudah mendeklarasikan anggota baru rumah kita. Sebelum punya nama resmi gw mendaulat dia dengan sebutan tengil. Yah...tengil. Apalagi kata yang tepat buat kucing yg susah dibilangin, susah diusir, suka banget nyari perhatian, suka ngegigit, suka ngejilatin tangan n kaki gw, galak sama emaknya dan punya hubungan yang ganjil sama semua benda menyerupai pensil dan sikat gigi.
Awal mulanya gw juga nggak tahu kapan tengil mulai merasuki hidup gw dan may. Tapi itu kucing suka teriak2 di depan pintu rumah, nggak yang depan-nggak rumah samping. Mulanya bokap yang nanya, itu kucing siapa sih berisik amat. Nah, logikanya nggk mungkin klo punya orang bisa teriak2 didepan rumah sepanjang hari. Gw yang nengokin iba. Gw curiga ama mukanya, jangan2 itu akting, biar gw kasihan. Soalnya nyokap tuh suka ngomong sama kucing musafir yang numpang makan didapur, buat sabar, buat jangan nakal, jangan naik2, jangan ini-itu dengan kata depan sayang sebelum ngasih makanan. Intinya, saking seringnya berinteraksi dengan kucing, emak gw tahu mana kucing akting, mana bukan.
Tengil itu masuk kategori kitten. Usianya belum setahun. Bulunya kuning keemasan dan putih. Ekornya panjang, kupingnya caplang. Standar kucing kampung lah. Tapi anehnya dia bersih. Jadi wajar klo bokap sempet nanya kucing siapa.
Mulanya bokap benci eh kesel banget sama tengil. Dia tuh berisik. Emak gw bilang, dia nyari emaknya tuh mangkanya ngeong2 nggak karuan. Tapi gw membacanya dia laper. Dasar gw, berhubung hari keempat dia muncul dirumah dengan sukses mendapatkan iba gw, adalah h-1 yang kemudian menjadi h-2 lebaran, maka tidak ada satu ikan pun dirumah. Nggak ada makanan yang pantas buat seekor kucing. Kastengel? Nastar? Kue coklat? Manisan kolang2? Kecuali bakal laksa yang masih dalam pembuatan. Dengan ayam yang baru matang dalam laksa yang belum ketahuan rasanya, gw mengembat ancuran daging ayam. Jadilah dia orang eh hewan pertama yang nyobain itu laksa. Gw tanya enak nggak, pas nggak bumbunya, eh dia diem ajah, maklum sibuk makan.
Gw dan may menyembunyikan klo kita melihara si tengil dengan nggak peduliin dia di depan bokap. May sempet bilang, "gw nggak pernah protes kog burung2nya berisik, masa satu kucing kecil ajah nggak boleh". Hebatnya tengil itu beneran tengil pas lebaran. Dia sangaaaaatttt tengil, selalu hadir saat tamu berkunjung. Gayanya dah kayak anggota kluarga. Lari sana sini, mimikny penasaran sm orng yg ngajak dia main, lagaknya kayak jablay, matanya jenaka dan gayanya siap nerkam, tapi manisnya dia nggak minta makanan sm tamu. Tamu pun nggak segan buat bilang, kucingnya lucu, lincah, manis, gemesin..bla..bla..weks!
Awalnya setiap tengil ngeong2 lama n nyebelin, bokap suka ke depan rumah, ceritanya mau ngusir dia. Selalu sama, klo nggak kliatan pasti dia ngumpet di bawah mobil dengan muka ngiba dan posisi tubuh pasrah. Tapi blakangan bokap suka tiba2 bilang, tuh kucing kemana suaranya ada tapi kog nggk kliatan. Dia udah ngiterin kolong mobil, pepohonan tapi nggak nemu. Rupanya bokap lom tahu, klo tengil punya persembunyian baru, di roda. Bukan dalam roda tapi atas roda. Tapi skrng bukan lagi tempat persembunyian, soalny setiap pintu terbuka dia akan nongolin kepalanya diatas roda diantara rongga mobil dan roda.
Pe er selanjutnya adalah tengil harus mandi. Oiyah, tengil itu anak eh kucing laki2.

Tidak ada komentar:

 
;